Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Refleksi Cermin Kemanusiaan: Mengenang Jejak Kedermawanan Dokter Lo dari Solo


Di tengah deru zaman yang menuntut segala hal dikonversi menjadi rupiah, dunia hari ini sering kali terasa bising oleh transaksi dan hitung-hitungan materi. Di tengah ketatnya kalkulasi tersebut, kita kadang tertegun ketika disodori sebuah kisah nyata yang menembus batas-batas matematika manusia. Kisah luar biasa itu melekat erat pada satu nama legendaris di Kota Surakarta: Dokter Lo Siaw Ging. Wafat dalam usia 89 tahun pada awal Januari 2024 lalu, Dokter Lo meninggalkan warisan cerita nyata berupa pelayanan tanpa pamrih yang membentang selama lebih dari enam dekade sejak tahun 1960-an.

Bagi masyarakat Solo, khususnya mereka yang hidup di garis kemiskinan, Dokter Lo adalah tempat bersandar utama saat fisik melemah namun dompet tak punya daya. Praktik dokter yang ia jalani puluhan tahun tidak pernah memasang tarif tetap. Siapa pun yang datang, kaya atau miskin, akan mendapatkan pelayanan dengan standar medis yang sama tinggi.

Namun, yang membuat namanya begitu melegenda adalah sebuah kesepakatan senyap antara dirinya dengan beberapa apotek di sekitar tempat praktiknya. Dokter Lo paham betul bahwa penyakit tidak hanya butuh diagnosis, melainkan juga obat. Sayangnya, obat-obatan berkualitas sering kali berharga mahal—sebuah kemewahan yang mustahil terjangkau oleh buruh gendong, tukang becak, atau buruh harian. Di sinilah "operasi senyap" kemanusiaan itu bermula. 

Tiap kali menghadapi pasien yang benar-benar tidak mampu, Dokter Lo akan menggoreskan kode khusus pada kertas resepnya. Kode itu adalah instruksi rahasia bagi apotek agar memberikan obat terbaik yang dibutuhkan secara gratis. Di akhir bulan, Dokter Lo merelakan sebagian besar pendapatan pribadinya terkuras habis untuk menebus semua bon tagihan tersebut.

Prinsip hidup yang kokoh ini ia bawa dengan setia hingga embusan napas terakhirnya, memegang teguh nasihat ayahnya: “Jika ingin kaya, jangan jadi dokter. Jadilah pengusaha.” Melalui perspektif objektif, Islam sebagai agama yang adil tidak pernah menutup mata dari kebaikan universal yang dilakukan oleh siapa pun, termasuk non-muslim. Pengakuan atas integritas sosial dan kedermawanan terhadap kaum lemah semacam ini diperbolehkan, bahkan memiliki landasan historis yang kuat dari para pendahulu yang mulia.

Kisah Dokter Lo seharusnya menjadi tamparan positif sekaligus pemantik motivasi internal bagi setiap muslim. Di dalam al-Qur’an dan Sunnah, perintah untuk memperhatikan fakir miskin dan melapangkan kesulitan sesama adalah pilar-pilar utama. Level pengorbanan sosial yang ditunjukkan Dokter Lo demi nilai kemanusiaan sejatinya menjadi cermin besar bagi kita semua untuk berbuat jauh lebih luas dalam menebar manfaat bagi lingkungan sekitar.

Sebagai bentuk apresiasi yang proporsional, kita menghormati beliau sebagai tokoh kemanusiaan luar biasa yang memegang teguh sumpah jabatan. Jejak kebaikan yang ditinggalkan di atas kertas resep berkode rahasia itu akan terus bergema. Kisah hidupnya adalah pengingat berharga bagi kita semua: bahwa harta yang sesungguhnya bukanlah apa yang kita tumpuk di dalam rekening, melainkan apa yang telah kita konversi menjadi manfaat bagi manusia yang membutuhkan.

Simak dan baca selengkapnya ada di : Dokter Lo Siaw Ging