Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rakyat Desa Jarang Makan Telor Ayam: Parahnya 'Hero Complex' Pejabat yang Kerap Buta Tuli pada Realitas



Di tengah narasi kemajuan ekonomi dan berbagai klaim keberhasilan pembangunan yang kerap digaungkan oleh pemerintah, sebuah realitas pahit justru terjadi di akar rumput. Di banyak wilayah pedesaan Indonesia, telur ayam—yang selama ini dianggap sebagai sumber protein paling murah dan merakyat—kini telah berubah menjadi barang mewah bagi sebagian besar warganya. Banyak dari rakyat desa yang harus memutar otak atau bahkan mencoret telur dari menu harian mereka akibat daya beli yang merosot tajam serta harga kebutuhan pokok yang terus melambung tinggi. Kejadian ini mencerminkan jurang ketimpangan sosial yang semakin menganga antara wilayah perkotaan dan pedesaan.

Namun, alih-alih merespons krisis gizi dan ekonomi ini dengan kebijakan struktural yang solutif, para pejabat publik dinilai kerap terjebak dalam fenomena hero complex. Ini adalah sebuah kondisi psikologis di mana para pembuat kebijakan merasa diri mereka sebagai juru selamat yang paling dibutuhkan oleh rakyat. Penyakit akut ini termanifestasi nyata lewat aksi-aksi karikatif yang dangkal, seperti pembagian bantuan sosial (bansos) seremonial yang penuh dengan kamera media. Mereka datang ke desa-desa bagaikan pahlawan, membagikan sedikit sembako, berfoto bersama warga yang kesusahan, lalu pulang dengan perasaan telah menyelesaikan masalah.

Sikap seperti ini dinilai membuat para pejabat rentan menjadi "buta dan tuli" terhadap realitas sesungguhnya. Mereka gagal melihat bahwa masalah yang dihadapi rakyat desa bukanlah kurangnya bantuan satu hari, melainkan tidak adanya ketersediaan lapangan kerja yang layak, kegagalan tata kelola pangan, serta absennya jaminan harga komoditas pertanian lokal yang berpihak pada petani. Bansos dan bantuan temporer tidak akan pernah bisa memperbaiki gizi buruk anak-anak desa jika esok harinya orang tua mereka kembali tidak mampu membeli sebutir telur pun.

Kritik tajam dalam artikel ini menegaskan bahwa sudah saatnya para pejabat menghentikan panggung sandiwara hero complex tersebut. Rakyat pedesaan tidak membutuhkan sosok pahlawan kesiangan yang hanya mencari panggung politik demi citra atau kepentingan pemilu. Yang mereka butuhkan saat ini adalah kehadiran negara yang nyata melalui kebijakan yang berkelanjutan, stabilisasi harga pangan, serta keberpihakan ekonomi yang nyata bagi masyarakat kecil agar sebutir telur ayam tidak lagi menjadi barang mewah di atas piring mereka.

baca : Pejabat sandiwara hero complex