Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

"Pagi Kedelai, Sore Tempe": Ketika Ucapan Pemimpin Tak Lagi Bisa Dipegang

Di tengah cepatnya arus informasi, masyarakat kerap disuguhkan atraksi retorika politik yang membingungkan: pernyataan yang berubah-ubah, bertolak belakang dari hari ke hari, hingga penggunaan diksi yang kurang pantas. Dalam kearifan lokal, fenomena pelintiran narasi dan ketidakkonsistenan ini dikenal dengan ungkapan “Esuk dele, sore tempe” (pagi kedelai, sore sudah jadi tempe).

Dalam pandangan Islam dan analisis karakter, lisan yang tidak stabil bukan sekadar buruknya strategi public relations, melainkan sinyal adanya krisis moral dan kejiwaan pada diri seorang pemimpin.

Mengapa Lisan Menjadi Cermin Integritas?

Lisan pada hakikatnya adalah saluran dari apa yang bergolak di dalam dada. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa kelurusan iman seseorang sangat bergantung pada kelurusan hatinya, dan kelurusan hati bermula dari kelurusan lisannya.

Ketika seseorang terbiasa berbohong atau melontarkan ucapan tanpa pertimbangan:

  1. Lisan mengotori nurani: Ucapan manipulatif akan merusak kesucian hati.

  2. Kerasnya hati (Qaswatul Qalb): Dusta yang berulang mengikis rasa bersalah, membuat hati tumpul terhadap kebenaran dan penderitaan rakyat.

  3. Merosotnya integritas: Kehilangan kompas nilai secara bertahap.

Ulama Al-Hasan Al-Bashri mengibaratkan bahwa orang bijak meletakkan lisannya di belakang hati (berpikir sebelum bicara), sedangkan orang jahil meletakkan hatinya di belakang lisan (bicara sesuka hati baru berpikir).

Karakter dan Dampak Bagi Kebijakan Publik

Artikel ini memetakan figur berlisan "tempe-kedelai" ke dalam beberapa kategori: indikasi kemunafikan perilaku (nifaq amali), sikap bermuka dua (dzawul wajhain), hilangnya rasa malu, serta defisit wawasan/ilmu.

Dampak dari pemimpin yang tidak lurus lisannya sangat fatal bagi masyarakat:

  • Kebijakan yang terombang-ambing: Kebijakan dibuat bukan berdasarkan data objektif, melainkan tekanan oligarki atau kepentingan jangka pendek.

  • Krisis kepercayaan (distrust): Masyarakat menjadi apatis dan sinis terhadap hukum serta institusi negara.

  • Normalisasi kebohongan: Budaya manipulasi di tingkat atas akan menetes dan meniru ke masyarakat luas.

Langkah Merawat Kelurusan Hati dan Lisan

Untuk menjaga integritas di tengah sistem yang pragmatis, terdapat lima benteng utama:

  1. Berdoa memohon ketetapan hati (Ya Muqallibal quluub).

  2. Menuntut ilmu (Thalabul 'Ilmi) agar tidak mudah dibodohi atau diintervensi.

  3. Menjaga harta dari yang haram dan syubhat (seperti suap dan gratifikasi).

  4. Menumbuhkan rasa Muraqabah (kesadaran senantiasa diawasi Allah).

  5. Berada di lingkungan yang berani mengingatkan (Suhbah Shalihah).

Kesimpulan

Lisan yang inkonsisten adalah cermin dari jiwa yang kehilangan arah moral. Kebijakan publik yang adil tidak mungkin lahir dari lisan dan hati yang bengkok. Perubahan besar di panggung publik harus dimulai dari hal paling mendasar: menjaga lisan kita sendiri agar selalu jujur, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.


Bagaimana menurutmu? simak & baca selengkapnya di : Lisan yang inkonsisten