Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menukar Bayangan dengan Kepastian: Dari Warung Makan hingga Akad Kehidupan


Di sebuah sudut warung makan yang aroma rempahnya selalu berhasil memanggil ingatan, dua orang pemuda sedang asyik bertukar cerita. Pembicaraan mereka bermula dari sebuah unggahan di linimasa media sosial: “Pilih bertahan sama pacar atau terima orang yang melamar, ya?” Pertanyaan sederhana ini membuka ilusi pilihan masyarakat modern—tentang bagaimana kita sering kali bingung membedakan antara kejelasan dan sekadar kenyamanan yang semu.

Lompatan Pertama: Doa di Samping Pelaminan

Doa sunnah “Bârakallâhu laka wa bâraka ‘alaika…” mengajarkan bahwa pernikahan mendoakan keberkahan saat lapang (laka) sekaligus saat badai datang (‘alaika). Pernikahan bukanlah permainan yang isinya hanya tawa, melainkan perahu kayu yang siap menerjang gelombang. Keberkahan bukanlah tentang ketiadaan masalah, melainkan kehadiran rahmat Allah di tengah masalah tersebut.

Lompatan Kedua: Sepiring Nasi dan Hitung-hitungan Manusia

Niat baik menyempurnakan agama sering kali terhenti karena menganggap pernikahan harus identik dengan pesta megah. Padahal, prosesi yang khidmat dan hangat bisa diwujudkan dengan sangat bersahaja: mahar sesuai kemampuan, sajian dibantu gotong royong warga melalui tradisi sinoman, serta undangan digital. Yang membuat pernikahan terasa berat bukanlah tuntutan syariat, melainkan tuntutan gengsi. Pesta adalah sehari, sedangkan pernikahan adalah seumur hidup.

Lompatan Ketiga: Memandang Sebelum Melangkah (Nazhar)

Di tengah fenomena pacaran tanpa arah, syariat Islam menyediakan jalur perkenalan yang paling elegan dan menjaga kehormatan: nazhar (melihat calon pasangan). Sesuai anjuran Rasulullah ﷺ, sang pria datang ke rumah wanita didampingi mahram dengan niat yang jelas untuk melihat wajah dan telapak tangannya. Jika cocok, proses berlanjut ke khitbah; jika tidak, kedua pihak berpisah secara baik-baik. Jalur bermartabat ini jauh berbeda dengan pacaran bertahun-tahun yang berisiko hanya menjadi "penjaga jodoh orang lain".

Lompatan Keempat: Ironi di Layar Kaca Ponsel

Kebingungan memilih antara pacar dan peminang mencerminkan ketidakdewasaan. Seseorang yang datang melamar menawarkan keberanian dan kepastian legal serta agama, sementara pacar yang belum berani melangkah baru memberikan harapan. Membingungkan keduanya ibarat menukar emas di genggaman dengan bayangan di kejauhan. Bagi pria yang melamar, keraguan si wanita di media sosial sebenarnya adalah tanda untuk berpikir ulang.

Menutup Catatan: Hikmah di Balik Lompatan

Kehidupan terlalu berharga untuk dihabiskan dalam ketidakpastian. Agama ini telah mengajarkan alur yang rapi: tempuh jalan mulia, kenali calon melalui ta'aruf dan nazhar, serta sesuaikan perayaan dengan kemampuan. Ketika kepastian datang dalam bentuk lamaran yang sah, buatlah keputusan dengan kedewasaan. Jangan bertukar kepastian dengan keraguan.


Bagaimana Pendapatmu? simak lebih lengkapnya di : Pilih bertahan sama pacar atau terima orang yang melamar ?