Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjaga Kompas Moral: Dari Sengkarut BUMN hingga Keganasan Jalanan



Pernahkah Anda merasa dunia di sekitar kita sedang berjalan ke arah yang keliru? Di satu hari, kita disuguhi berita tentang kursi komisaris BUMN yang dibagikan secara instan sebagai hadiah politik bagi tim sukses. Di hari lain, saat melangkah ke ruang publik seperti angkutan umum, kita langsung dihadapkan pada wajah kriminalitas jalanan yang mengintai hak-hak orang kecil.

Meskipun skalanya berbeda, dua realitas ini sebenarnya diikat oleh satu benang merah yang sama: krisis integritas yang akut.

Lantas, sebagai "orang kecil" yang tidak punya kekuasaan, apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita hanya bisa diam dan meratapi keadaan?

1. Ketika Meritokrasi "Dicopet" di Level Atas

Belakangan ini, lini masa kita ramai mengkritik tata kelola BUMN yang dinilai kental dengan budaya patronase politik, bukan meritokrasi (kompetensi). Contoh paling hangat adalah pengangkatan mantan kader partai muda sebagai Komisaris Independen di holding PTPN III.

Ketika instansi negara dikelola atas dasar balas budi, dampaknya jauh lebih merusak daripada sekadar angka kerugian di laporan keuangan. Fenomena ini memicu erosi kepercayaan publik, meruntuhkan mental generasi muda yang merasa koneksi lebih penting daripada prestasi, serta melukai rasa keadilan masyarakat bawah yang harus bersaing berdarah-darah hanya demi menjadi staf biasa.

2. "Negosiasi Moral" di Level Jalanan

Jika di level atas kemungkarannya bersifat struktural, di jalanan ia bersifat fisik dan langsung. Menariknya, menghadapi kejahatan di jalanan butuh kecerdikan, bukan sekadar nekat.

Ada sebuah kisah menarik tentang seorang penumpang yang menggagalkan aksi copet dengan taktik pattern interrupter—ia menggebrak pintu angkot sambil tertawa keras. Fokus si copet hancur, dan korban pun selamat tanpa perlu ada adu fisik.

Namun, dunia kriminal punya cara unik untuk beradaptasi. Di hari lain, si copet mendekati sang penolong, menyodorkan sebatang rokok, dan membisikkan "kode etik" jalanan: "Kalau di jalan lihat apa-apa diam aja, nanti kan kebagian." Ini adalah taktik kooptasi moral untuk menciptakan utang budi. Beruntung, sang penolong hanya tertawa—sebuah penolakan cerdas yang menghindari konflik fisik sekaligus menolak menggadaikan prinsip.

3. Melawan Bystander Effect dengan Cerdik

Musuh terbesar masyarakat modern saat ini bukanlah menjamurnya penjahat, melainkan akutnya Bystander Effect—fenomena psikologis di mana semua orang memilih diam dan membiarkan kejahatan terjadi karena mengira akan ada orang lain yang bertindak.

Namun, kita juga harus realistis. Menolak diam bukan berarti bertindak konyol tanpa perhitungan. Kita bisa menggunakan strategi intervensi tidak langsung yang aman, seperti:

  • Distraksi: Pura-pura menjatuhkan barang atau batuk dengan keras untuk merusak momentum pelaku.

  • Pura-Pura Kenal: Menyapa calon korban untuk memutus ruang gerak pelaku.

  • Aliansi Otoritas: Melaporkan secara diam-diam kepada sopir, kondektur, atau petugas keamanan.

4. Apa yang Bisa Dilakukan "Orang Kecil"?

Jika di jalanan kita bisa menggebrak pintu untuk menghentikan copet, apa yang bisa kita "gebrak" untuk menghentikan nepotisme di level atas?

Dalam Islam, Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk mengubah kemungkaran dengan tangan (kekuasaan), lisan (kritik), atau hati (doa/kebencian pada keburukan). Sebagai warga biasa, kita mungkin tidak punya "tangan" kekuasaan, tetapi kita punya "lisan" dan "hati" yang bisa disinergikan melalui langkah nyata:

  1. Amunisi Digital: Gunakan media sosial untuk menyuarakan kritik yang objektif dan berbasis data. Ketika ribuan orang kecil bersuara, public pressure akan memaksa penguasa melakukan evaluasi.

  2. Putus Mata Rantai dari Rumah: Jangan gunakan "orang dalam" untuk urusan sekolah anak, menyuap polisi saat ditilang, atau memotong antrean birokrasi. Korupsi di atas adalah cerminan dari kebiasaan di bawah yang dibiarkan.

  3. Gunakan Hak Pilih dan Hak Konsumen: Boikot entitas yang dikelola secara korup, dan gunakan hak suara Anda secara kritis saat pemilu. Jangan gadaikan masa depan hanya demi amplop serangan fajar.

Penutup: Menegaskan di Pihak Mana Kita Berdiri

Pada akhirnya, kita tidak dituntut untuk membersihkan dunia ini sendirian hingga tuntas. Tuhan hanya melihat apa yang sudah kita lakukan sesuai batas kemampuan kita.

Ingatlah kisah burung pipit yang membawa tetesan air dengan paruhnya yang kecil untuk memadamkan api raksasa yang membakar Nabi Ibrahim AS. Saat diejek oleh cicak karena usahanya dianggap sia-sia, burung pipit itu menjawab dengan anggun:

"Aku tahu air ini tidak akan mampu memadamkan api yang besar itu. Namun dengan ini, aku menegaskan di pihak mana aku berdiri, dan agar Allah menyaksikan apa yang aku lakukan dengan seluruh keterbatasan kemampuan yang aku miliki."

Mari jaga kompas moral kita tetap bersih. Tetaplah teguh, tetaplah cerdik, dan jangan pernah lelah menjadi pahlawan di ranah terbaik yang kita miliki saat ini.

Baca : Menjaga Kompas Moral Jajaran BUMN