Menguak Sisi Lain Kampung Muara Bahari: Mengapa Driver Ojol Kompak “Tombol X” ke Sini?
Bagi para pejuang aspal di ibu kota, bunyi dering pesanan di aplikasi adalah sumber rezeki yang paling dinanti setiap harinya. Namun, tidak semua orderan membawa kebahagiaan dan keuntungan. Ada kalanya, titik destinasi yang tertera di layar ponsel justru membuat jantung berdegup kencang dan memicu refleks jempol untuk segera menekan "Tombol X" alias membatalkan pesanan secara sepihak. Fenomena dilematis inilah yang kerap terjadi ketika para driver ojek online (ojol) mendapati rute perjalanan mereka mengarah ke Kampung Muara Bahari, sebuah kawasan padat penduduk di pinggir rel kereta api di Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Diskusi hangat di berbagai komunitas media sosial belakangan ini berhasil menguak sisi lain mengapa kawasan tersebut menjadi momok yang sangat menakutkan bagi komunitas ojol. Berdasarkan keluh kesah dan pengalaman nyata para driver di lapangan, setidaknya ada tiga alasan utama yang membuat mereka kompak melakukan aksi "skip" atau menolak pesanan demi keselamatan diri.
Alasan pertama dan yang paling utama adalah label "Zona Merah" yang melekat erat pada Kampung Muara Bahari. Meskipun di gerbang masuk utama RW 012 terpampang papan pengumuman besar bertuliskan "Kawasan Anti Narkotika", bagi para pelaku transportasi online, papan tersebut justru menjadi pengingat yang jelas bahwa mereka sedang memasuki wilayah yang sangat rawan. Reputasi kelam sebagai salah satu pusat peredaran gelap narkoba dan tingginya angka kriminalitas membuat para driver enggan berspekulasi dengan keselamatan nyawa maupun kendaraan mereka.
Selain masalah premanisme setempat, ada ketakutan lain yang tidak kalah horor di mata para driver, yaitu risiko menjadi korban salah tangkap oleh petugas kepolisian (buser). Mengingat Kampung Muara Bahari merupakan kawasan yang sangat sering menjadi sasaran penggerebekan oleh aparat penegak hukum, para driver khawatir berada di waktu dan tempat yang salah. Bayangkan saja, jika berniat tulus hanya untuk mengantar paket makanan atau penumpang, namun tiba-tiba terjebak di tengah operasi tangkap tangan yang menegangkan. Urusannya tentu akan menjadi sangat panjang, melelahkan, dan bukan tidak mungkin sepeda motor yang menjadi satu-satunya alat mencari nafkah harus disita sebagai barang bukti oleh kepolisian.
Tidak hanya itu, kondisi geografis kampung juga menjadi faktor penentu yang menyulitkan. Labirin gang-gang sempit yang padat dan berbatasan langsung dengan jalur kereta api membuat akses keluar-masuk wilayah ini sangat terbatas. Jalur tikus yang gelap seperti ini sangat rawan dimanfaatkan oleh oknum pemuda lokal untuk melakukan aksi pencegatan atau pemerasan, terutama pada malam hari. Beberapa driver berpengalaman bahkan menyebutkan bahwa mereka harus mengantongi "mantra" khusus berupa nama tokoh lokal yang disegani agar bisa melintas dengan aman tanpa diganggu oleh gerombolan yang nongkrong di sana.
Pada akhirnya, fenomena kekompakan menekan "Tombol X" ini memperlihatkan adanya prinsip yang sangat kuat dalam solidaritas komunitas ojol. Walau tuntutan ekonomi di kota besar sangat mendesak, mayoritas dari mereka sepakat bahwa pulang dengan selamat ke rumah untuk bertemu anak istri jauh lebih berharga daripada memaksakan diri mengambil risiko besar di zona merah berbahaya tersebut.
baca : Sisi lain kampung Muara Bahari, Driver Ojol Kompak " Tombol X"
