Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kalau Ndasmu Diganti Your Head, Apakah Jadi Lebih Sopan?







Belakangan ini, kata "ndasmu" mendadak menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Bagi masyarakat Jawa, kata ini punya daya kejut yang luar biasa. Jika diucapkan dalam forum formal, kata ini bisa langsung memicu kerutan di dahi. Ndas adalah bahasa Jawa kasar untuk "kepala", yang tingkatannya diletakkan di paling bawah—biasanya untuk hewan, atau untuk manusia dalam konteks konfrontasi yang sengit. Namun, sebuah pertanyaan menarik muncul: jika kata yang dianggap kasar ini kita ganti dengan padanan bahasa Inggrisnya, "your head", apakah esensinya otomatis berubah menjadi lebih sopan?

Secara harfiah, keduanya tidak punya perbedaan makna. Ndasmu ya your head, artinya sama-sama "kepalamu". Tetapi dalam psikologi masyarakat kita, ada bias budaya yang menggelitik. Bahasa Inggris sering kali dipandang sebagai bahasa yang elite, modern, dan kaum intelektual. Ketika seseorang mengumpat atau memotong argumen orang lain dengan kalimat "use your head!" (pakai kepalamu!), lingkungan sekitar cenderung menganggapnya sebagai hal yang biasa, ekspresi urban, atau bahkan keren. Sebaliknya, begitu kata "ndasmu" yang meluncur, vonis tidak berbudaya dan kasar langsung disematkan.

Fenomena ini adalah bentuk dari "kamuflase bahasa". Kita sering kali terjebak pada bungkus luar sebuah kata, bukan pada substansi rasanya. Bahasa Inggris tidak mengenal sistem tingkatan kasta kata (undha-usuk) seperti dalam bahasa Jawa (seperti kata sirah, mustaka, dan ndas). Ketika diterjemahkan ke bahasa asing, nilai rasa yang pekat dan tajam dari kata asli daerah tersebut seolah-olah menguap dan ternetralisasi.

Padahal, kesopanan yang sejati tidak ditentukan oleh kamus bahasa asing mana yang kita gunakan. Jika motivasi dasar di balik ucapan tersebut adalah untuk merendahkan, mengejek, atau menyepelekan lawan bicara, maka memakai istilah "your head" hanyalah cara licik untuk memperhalus kebebalan etika. Nilai kesopanan sejati tetap melekat pada intensi, rasa bahasa, dan bagaimana kita menghormati manusia di depan kita. Mengganti istilah daerah dengan istilah asing tidak serta-merta menaikkan kelas moral seseorang jika isi kepalanya tetap abai terhadap tata krama.

Baca : ndasmu vs your head