Dilema Nasyid: Benarkah Sudah Kebablasan Menjadi Pengganti Musik?
Di era digital sekarang, banyak dari kita yang sedang berproses hijrah mulai memilah-milah apa yang masuk ke telinga. Musik-musik konvensional dengan lirik cinta yang melalaikan atau ketukan yang bikin kecanduan perlahan mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, nasyid sering kali menjadi pilihan utama. Alasan kita sederhana: liriknya Islami, pembawaannya menenangkan, dan rasanya "lebih aman" untuk iman.
Namun, sebuah artikel menarik di portal Sudagaran News yang berjudul "Ketika Nasyid Menjadi Pengganti Musik & Lagu: Sampai Di Mana Batasannya?" mencoba melempar sebuah pertanyaan reflektif yang cukup menampar: Apakah kita sudah proporsional dalam menempatkan nasyid?
Jembatan Hijrah yang Mulai Bergeser Fungsi
Artikel tersebut membuka pembahasan dengan sudut pandang yang sangat adil. Di satu sisi, beralihnya seseorang dari lagu-lagu maksiat ke nasyid yang berisi pesan moral dan motivasi adalah sebuah langkah awal yang positif. Ini adalah fase transisi yang patut diapresiasi.
Namun, kritik tajam mulai muncul ketika kita melihat realitas di lapangan. Nasyid yang awalnya hanya sekadar perkara mubah (boleh), perlahan tapi pasti mulai menggeser posisi hal yang paling utama dalam Islam, yaitu Al-Qur'an.
Sadar atau tidak, hari ini banyak dari kita yang jauh lebih hafal belasan lirik nasyid kontemporer daripada surah-surah pendek di juz Amma. Kita bisa betah menghabiskan waktu berjam-jam mendengarkan senandung manusia di earphone, tetapi merasa berat dan cepat bosan saat harus menyimak atau mengkaji ayat-ayat suci Al-Qur'an. Di sinilah letak salah kaprahnya.
Ketika Nasyid Dianggap Ibadah dan Terjebak Industri
Hal krusial lain yang disoroti dalam tulisan tersebut adalah batasan nasyid dalam ranah ibadah. Nasyid bukanlah bagian dari ritual agama. Ia tidak bisa dijadikan metode utama untuk melembutkan hati, apalagi menggantikan posisi zikir yang sudah memiliki dalil baku.
Parahnya lagi, industri nasyid modern saat ini dinilai sudah terlalu berkiblat pada budaya pop konvensional. Adanya fanatisme berlebih kepada figur penyanyinya (munsyid), gemerlap panggung pertunjukan, hingga kejar-kejaran popularitas dan komersialisasi membuat esensi religiusnya perlahan menguap. Akhirnya, ia hanya menjadi industri hiburan biasa yang dibungkus dengan label islami.
Kesimpulan: Jembatan Bukanlah Tempat Tinggal
Hal yang paling saya sukai dari artikel di Sudagaran News ini adalah pembawaannya yang tenang dan tidak konfrontatif. Penulisnya tidak sekadar mengharamkan secara kaku, tapi juga tidak melonggarkannya tanpa batas atas nama dakwah.
Pesan mendalam yang bisa kita bawa pulang adalah: nasyid boleh saja menjadi "jembatan" saat kita baru belajar berhijrah dari dunia musik lama. Namun ingat, jembatan hanyalah tempat lewat, bukan tempat tinggal. Tujuan akhir kita sebagai seorang muslim adalah mengembalikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pemenuh nutrisi utama bagi hati kita, bukan syair-syair buatan manusia.
Baca Selengkapnya : https://sudagaran.web.id/ketika-nasyid-menjadi-pengganti-musik-lagu-sampai-di-mana-batasannya/